banner 728x250

Solusi Islami Menghadapi Keputusasaan dan Tanggung Jawab Sosial                                Oleh Arifulhaq Atjeh

banner 120x600
banner 468x60

 

Medan//Nusantara-post.com. Jum’at 7/11//2025. Dalam kehidupan, kita sering dihadapkan pada berbagai ujian berat yang memilukan, seperti himpitan ekonomi, kemiskinan, perceraian, hingga kriminalitas. Sebagai muslim, respons terhadap ujian ini berlandaskan pada dua prinsip utama dari Al-Qur’an. Pertama, kewajiban untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka, termasuk dengan tidak putus asa dan menghindari cara mencari rezeki yang haram (Q.S. At-Tahrim, 6). Kedua, kewajiban untuk membentuk komunitas yang saling menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, sebagai bentuk kepedulian sosial (Q.S. Ali ‘Imran, 104). Sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Al-Muyassar, perintah “menjaga diri dan keluarga” mencakup pendidikan agama dan penerapan syariat dalam lingkup keluarga.

Secara konkret, Islam melarang keras bunuh diri dan putus asa karena hidup adalah amanah Allah. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa dosa terbesar setelah syirik adalah membunuh jiwa, termasuk bunuh diri (Al-Bukhari, n.d.). Seorang muslim harus selalu optimis dan yakin pada rahmat-Nya, sebagaimana sabda beliau untuk tidak pernah putus asa selama nyawa masih dikandung badan (Ahmad, n.d., seperti dinilai Al-Albani). Larangan ini diiringi dengan perintah untuk aktif berusaha dan bekerja keras. Nabi Muhammad SAW mencontohkan bahwa berikhtiar, sekalipun dengan pekerjaan paling sederhana seperti memanggul kayu bakar, jauh lebih terpuji daripada meminta-minta (Al-Bukhari, n.d.). Imam Al-Sa’di dalam tafsirnya menegaskan bahwa tawakal tidaklah bertentangan dengan usaha, karena usaha adalah sebab yang diperintahkan.

Selain tanggung jawab individu, Islam juga menekankan tanggung jawab sosial yang kuat. Iman seseorang dianggap tidak sempurna jika ia tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan (Al-Thabrani, n.d., hasan). Kepedulian terhadap lingkungan sekitar, atau yang disebut sholeh sosial, adalah bagian integral dari keimanan. Tanggung jawab ini bahkan lebih besar bagi para pemimpin. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menasihati bahwa seorang pemimpin adalah penggembala yang akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh rakyatnya di akhirat kelak (Al-Ghazali, ca. 1106-1111). Oleh karena itu, seorang pemimpin wajib mengurus dan membuka pintu bagi rakyatnya yang membutuhkan tanpa penundaan.

Akar dari banyaknya keputusasaan dan krisis moral saat ini seringkali dikaitkan dengan telah tercabutnya nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin dari kehidupan. Oleh karena itu, solusi sejatinya adalah dengan kembali kepada prinsip-prinsip Islam. Sebagaimana firman Allah, “Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan” (Q.S. Al-Insyirah, 5-6). Ibn Al-Qayyim dalam Ighathat al-Lahfan menjelaskan bahwa optimisme adalah nutrisi hati dan kunci untuk meraih pertolongan Allah. Hal ini diwujudkan dengan meniatkan segala usaha karena Allah, hidup sederhana, menjauhi syirik, meningkatkan kepedulian sesama, dan senantiasa menanamkan optimisme, karena seorang mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah (Muslim, n.d.).Aamiiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.

Medan, 7/11/2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *