Jakarta |Nusantara-pos.comRupanya, fenomena jamaah haji Indonesia yang banyak meninggal di ‘Tanah Suci’ saat melaksanakan Ibadah Haji selama ini tak dikelola secara serius.
Klimaksnya, pada tahun 2019, ada 463 jamaah Haji asal Indonesia yang meninggal di Arab Saudi.
Itu sebabnya, Pemerintah Indonesia membuat kebijakan melakukan Transformasi Haji, bermitra dengan 4.000 lebih dokter yang berpraktek di Indonesia di bawah koordinasi Perhimpunan Dokter Haji Indonesia (PERDOKHI) yang baru dibentuk sekitar tiga tahun.
Demikian penuturan Ketua Umum PERDOKHI DR Dr Syarief Hasan, Sp.K
F, .MARS yang mengungkapkan ada kasus tersembunyi yang selama ini disembunyikan seputar kasus banyak meninggalnya jamaah haji asal Indonesia di Arab Saudi.
Ternyata, supaya bisa berangkat menunaikan Ibadah Haji, di antara jamaah haji ada yang menyembunyikan riwayat penyakitnya. Sebab, “Kalau ada rujukan penyakit yang diidap jamaah haji dari dokter, Pemerintah Arab Saudi tentu akan menolaknya,” kata dr Syarief. Sementara, “Kalau ditolak saat embarkasi, mereka tentu akan kecewa dan sakit hati karena sudah menunggu berangkat Haji bertahun-tahun.”
Karena itu, dr Syarief menyampaikan bahwa para dokter yang berhimpun di Perdokhi melaksanakan tugas mereka pada saat sebelum berangkat Haji, pada saat pelaksanaan haji, dan saat kepulangan haji. Dengan demikian, berdasarkan pemeriksaan dan penelitian secara intensif berdasarkan keilmuan medis dan uji klinis, bisa diketahui jika ada riwayat penyakit tersembunyi atau yang disembunyikan.
Jadi, kesimpulan yang dipaparkan sebagai laporan betul-betul bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Misalnya, tidak benar kalau kasus meninggalnya jamaah Haji karena kondisi eksidental yang terjadi di Arab Saudi karena kasus-kasus penyakit berisiko tinggi yang diderita pasien memang sudah bawaan dari Tanah Air (Indonesia). Demikian dr Syarief Hasan, Sp.K.F MARS yang baru baru ini di kykuhkan sebagai Ketua Umum Perdhoki periode 2023-2026 menegaskan. Karena itulah, “Kami mensosialisasikan ‘assesment’ dengan cara melakukan pembinaan sebelum keberangkatan Haji”. Istilahnya, “Di-isto’ah-kan sampai betul-betul siap diberangkatkan Haji dengan mengoptimalisasikan fungsi klinis tubuh (kesehatan) jamaah Haji.”
(Sudrajat/Fathonie AG)
