Surabaya//Nusantara Pos .Sejumlah wali murid di SMA Negeri 2 Surabaya mengeluhkan tingginya harga Lembar Kerja Siswa (LKS) yang mencapai Rp1.400.000 untuk 14 mata pelajaran. Biaya tersebut dinilai menjadi beban ekonomi yang berat, terutama bagi keluarga dengan kondisi finansial terbatas.
Menurut pengakuan beberapa wali murid, pihak sekolah dinilai kurang peka terhadap kondisi ekonomi siswa dan orang tuanya. Mereka berharap adanya solusi berupa penyediaan bahan ajar yang lebih terjangkau tanpa harus menambah pengeluaran besar di luar kewajiban sekolah.
“Harga LKS terlalu tinggi. Sekolah negeri seharusnya memberikan akses bahan ajar yang terjangkau, bukan justru memberatkan,” keluh salah satu wali murid, Minggu (07/08/2025)
Saat tim investigasi berusaha meminta keterangan, Kepala Sekolah SMAN 2 Surabaya, Titik Hariyani, tidak berada di tempat.Menurut salah seorang guru, kepala sekolah dan humas sedang menghadiri rapat di luar sekolah sehingga belum dapat memberikan tanggapan resmi. Pada tanggal (13/08/2025
Seorang pegiat anti-korupsi dengan inisial (Ud) menilai, praktik jual-beli LKS di sekolah negeri rawan disalahgunakan.
“Guru tidak seharusnya menjadikan siswa atau wali murid sebagai sumber pendapatan pribadi. Jika terbukti ada unsur memperkaya diri, investigasi akan dilakukan dan laporan bisa masuk ke aparat penegak hukum,” tegas Ud
Kasus ini memicu perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Transparansi pengelolaan sekolah negeri kembali dipertanyakan, terlebih setelah muncul berbagai kasus serupa di Jawa Timur terkait pungutan liar berkedok sumbangan maupun penjualan buku.
Banyak pihak menilai, pendidikan di sekolah negeri seharusnya inklusif, bebas pungutan, serta tidak membebani orang tua. Dinas Pendidikan Jawa Timur diharapkan segera turun tangan melakukan evaluasi agar praktik serupa tidak terus terjadi.
( S dik)













