banner 728x250

Menggali Edukasi Dari Pensiunan Badan Pusat Statistik, Bojonegoro

banner 120x600
banner 468x60

 

Bojonegoro I nusantara-post-com,- Badan Statistik adalah salah satu Pemerintah non departemen. Sehingga pertanggung jawaban nya langsung ke Presiden.
Awalnya BPS adalah Biro Pusat Statistik, sesuai undang-undang nomor 6 tahun 1960.
Sejak tahun 1997 berdasarkan undang-undang nomor 16 berubah menjadi Badan Pusat Statistik.

Adapun tugas BPS adalah menggali, mencari data, mengolah data dan menganalisa data.

Dan terdapat 2 macam cara pengambilan data yakni dengan melalui Sensus dan Survey.

Sensus dilaksanakan dalam 10 tahun sekali.
Terdiri dari 3 macam sensus, diantaranya:
1. Sensus penduduk dilaksanakan di tahun yang akhirannya angka 0 (nol).
2. Sensus pertanian dilaksanakan di tahun yang akhirannya angka 3 (Tiga).
3. Sensus Ekonomi di tahun akhirannya angka 6 (Enam).
Dengan Sensus perhitungan riil, dan menjamin kerahasiaan jawaban responden, dan statistik merupakan ‘ One data ‘ validasi penentu kebijakan pemerintah diantaranya BPS (Badan Pusat Statistik).
Demikian muqaddimah perihal apa peran utama BPS, yang di sampaikan oleh Pensiunan PJ BPS kecamatan Dander, Tony Sugeng Siswoyo,SH.(Terakhir menjabat sebagai koordinator Statistik/PJ Kecamatan Kasiman dan Kecamatan Kedewan, yang juga sebagai ketua umum Tim Humas BPS Kabupaten Bojonegoro)/ Suami dari Bidan bernama Ririn Arisanti SSiT.

Riil laporan sensus diserahkan kepada Bapak Presiden, dan memang hasil laporan data jarang dengan pihak lain. Sehingga dengan lantang dengan argumentasi dengan instansi lain. Itulah seni nya sebagai insan Statistik.”jeli,riil data, akurat laporan berdasarkan draf yang di pertanyakan kepada responden yang jujur.
Sehingga keakuratan Sensus statistik yang terkadang berseberangan dengan hasil pendataan instansi lain”, lanjut dari 3 putra putri yang namanya berawalan ‘Nariendra : Dyah Pramudhyanti ( Lulusan AkPRIN Yogyakarta), Nariendra Dyan Pramesti (Alumni UNAIR), Narendra Dyan Permadi (Sekolah di SMK 2 Bojonegoro).

Dalam per sepuluh tahun, BPS melaksanakan 3 kali Sensus , kalau tahun angka terakhir 0 (Nol) Sensus Penduduk, angka terakhir 3 (Tiga) Sensus Pertanian, tahun angka terakhir 6 berarti Sensus Penduduk.
Dari tahun 1960-1997 nomor 6 masih nama Biro Pusat Statistik yang isinya diantaranya di masing masing kecamatan minimal ada 1 petugas statistik. Namun tahun 1997 bukan lagi Biro tetapi berubah menjadi Badan Pusat Statistik, petugas di tingkat kabupaten, untuk tingkat kecamatan PJS (Penanggung jawab statistik) yang mengajak mitra PJ. Yang terdiri dari petugas, pengawas, koordinator, pelaporan kegiatan ke Penanggung jawab di tingkat kecamatan di terus di tingkat kabupaten, dan seterusnya.

Kesan selama menjadi pegawai statistik, adalah bisa mengenal dan di kenal oleh beragam status sosial, asal bernyawa bisa memperkenalkan diri. Berbekal sesama manusia bersikap wajar wajar saja, jangan keterlaluan cara menghormati tetapi Jangan diremehkan yang berujung membuat orang lain tersinggung.

Secara kedinasan ada tatanan secara administratif, harus bisa menempatkan diri, selama melaksanakan tugas sesuai S.O.P.
Komando tetep dari atas melakukan pekerjaan harus dengan ikhlas. Dan bila ada masalah perlu dibahas untuk didapatkan sebuah Solusi.

“Apa yang kita lakukan tentunya dengan cara yang ikhlas, sehingga bekerja menjadi nyaman.
Dan kami berharap, Petugas BPS selevel dan yunior kami, harus tetap semangat dalam menghadapi responden untuk memperoleh data yang benar dan akurat.
Demikian juga berharap kepada para responden untuk berkenan memberikan jawaban yang benar dan jujur. Agar kebijakan pemerintah berdasarkan data juga tepat. Karena jawaban responden yang akan dijadikan acuan penentu kebijakan pemerintah “, papar putra ke 2 dari 7 bersaudara dari pasangan Mbah Sahar+mbah Suhartini.
Alias sang ayahanda juga pensiunan BPS.

“Untuk yunior kami yang di Dander sekarang bu Indah, semoga apa kontribusi kami saat di Dander dibidang BPS sekarang ini yaa Bu Indah. Pensiunan kami sebagai PJ di kecamatan Kasiman dan Kecamatan Kedewan.
Untuk motto hidup, buatlah orang lain secara umum senang dengan pekerjaan kita. Kalau tidak mampu membuat orang lain senang, tentu minimal jangan membuat orang lain kurang nyaman.
Kata kunci demikian, membuat kita dimanapun berada sudah pasti bisa diterima dalam bergaul.
Kalau lagunya pak Haji Rhoma Irama, jadilah “Peramah” jangan “Pemarah”. Dan ini sekarang tinggal Ngopi sambil diskusi nyadap ilmu dari petani yang terbiasa bertani”, pungkasnya mbah Tony Yang kini full berblangkon.

Selanjutnya menurut seorang sahabat nya Ali Akbar, staf kecamatan Malo. Mengakuinya Sifat familiar Mbah Tony, dari kecil, mudah adaptasi dan ngangeni tetapi respon bila di hubungi dan mau menyusul jika tidak repot. Bahkan masih banyak yang belum percaya kalau Mbah Tony sudah pensiun.
Mbah Tony memberikan wejangan atau Edukasi caranya mudah diterima dengan gayanya, setelah Pensiunan jika tidak ada acara keluarga, yaa di ladang dan Ngopi ada beberapa jujugan. Kesan positif dan membangun semangat untuk yunior, seperti saya ini “, kesan Ali Akbar, Sahabat mbah Tony.

Hal senada tentang pola akrab Mbah Tony juga disampaikan oleh Kades Tambakmerak mbah Kung Supeno.

Juga Kasi Trantib kecamatan Kedewan Sulaeman S. Sos. ” Mbah Tony mantis ( mantri statistik) suple dan grapyak, ora gampang lupa dengan orang yang pernah bertemu. Selamat menikmati masa pensiun. Bahagia dan sehat, nggeh…….”Bersambung “”…(Eko P).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *